Rabu, 08 Agustus 2012

Kewajiban Menuntut Ilmu

ilmu, kewajiban, menuntut ilmu
Menuntut ilmu itu wajib. Jika dilakukan, maka ia bernilai ibadah. Bahkan, dalam sebuah haditsnya, Rasulullah Saw menegaskan, orang yang pergi untuk menuntut ilmu sama dengan membuka jalan menuju surga.
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga dan sesungguhnya para malaikat  membentangkan sayapnya karena ridla (rela) terhadap orang yang mencari ilmu…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah).
“Barangsiapa  keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga kembali” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah Saw juga menjelaskan lima golongan manusia terkait ilmu, yang celaka adalah golongan kelima.
Qoolan Nabiyu Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khomisan, fatahlik.
“Nabi Saw bersabda: Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).
Rasul Saw memerintahkan umatnya menjadi ‘Alim (orang berilmu, guru, pengajar). Jika belum sanggup,  jadilah Muta’ammilan (orang yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri) atau menjadi pendengar yang baik (Mustami’an), paling tidak menjadi Muhabban –pecinta ilmu, simpatisan pengajian, donator lembaga dakwah dan pendirikan dengan harta, tenaga, atau pikiran, atau mendukung majelis-majelis ilmu.
Rasul Saw menegaskan, jangan jadi orang kelima (Khomisan), yaitu tidak jadi guru, murid, pendengar, juga tidak menjadi simpatisan atau supporter. Celakalah golongan kelima ini. “Fatahlik!”
1.      Menjadi Orang yang ‘alim : Menjadi orang yang bisa  mengajarkan dan mengamalkan ilmunya , orang alim bukan hanya dia yang memakai baju koko, peci atau pun sarung tapi lebih di nilai dari hatinya yang bersih dari berbagai macam penyakit hati missal : iri, dengki, sombong,sebab kalau hanya di nilai penampilan fisik ada juga yang menipu contohnya ada orang yang pakai baju rapi pakai peci tapi malahan kena masalah di peradilan gara gara melanggar hukum dan tak sedikit pula orang yang Cuma berpakaian ala kadarnya tapi malah taat pada aturan agama.
2.      Menjadi Murid ( Penuntut Ilmu ) : Menuntut ilmu itu merupakan kewajiban setiap muslim baik itu laki laki maupun perempuan, trus kapan kewajiban menutut ilmu itu?, dalam sebuah hadits yang di riwayatkan Muslim “Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat”jadi selama kita masih hidup kewajiban tersebut tetap masih berlaku di mana saja dan kapan saja kita berada, menuntut ilmu tidak harus di sekolah tapi bisa juga di pesantren, majlis taklim, mengikuti pengajian setiap sore bagi anak anak tapi jangan Cuma di bulan ramadhan saja tapi setelah ramadhan juga harus rutin ngaji.
3.      Menjadi Pendengar : Dalam hal ini bukan Cuma mendengarkan dari ceramah para ustadz tapi juga bisa melihat keadaan alam di sekitar kita yang dapat kita ambil pelajaran darinya, misalkan Nyamuk, hewan yang dituding membawa banyak penyakit mematikan ini.. Padahal karena adanya Nyamuk lah manusia membuat banyak anti-Nyamuk, mendirikan pabrik-pabrik, menciptakan begitu banyak penelitian dan mampu menghadirkan banyak lapangan kerja, karena Nyamuk banyak manusia bisa hidup, coba bayangkan kalau di sekitar kita tidak ada nyamuk sama sekali berapa orang yang bisa kehilangan pekerjaan, buat apa memproduksi anti nyamuk sedangkan nyamuknya saja tidak ada, Dalam menghisap darah hanya secukupnya kalau tidak mau celaka karena kalau terlalu kenyang tidak kan bisa terbang dan akhirnya mati di tangan manusia, dari peristiwa itu kita sebagai manusia tidak boleh serakah bila tidak ingin celaka, jangan sampai mengambil yang bukan haknya.

4.      Pencinta Ilmu : Mereka yang suka dengan di adakannya majlis majlis ilmu, memfasilitasi dengan apa yang dia punya baik harta, tenaga maupun pikiran, dalam hal ini peran orang tua juga berpengaruh terhadap perkembangan ilmu anaknya, jangan sampai Cuma membiarkan anaknya tanpa adanya pengawasan dari orang tua terutama dalam ilmu agama yang harus di tanamkan sejak dini , dengan cara kenalkan anak tersebut tentang ilmu agama bila tidak mampu sendiri ya di titipkan ke TPA, atau sekolah yang pelajaran agamanya  lebih banyak daripada pelajaran umum, Alhamdulillah di desa desa masih ada TPA untuk menambah ilmu agama setelah belajar dari sekolah umum waktu paginya, Terkadang orang tua kwatir anaknya tidak bisa pelajaran matematika, bahasa inggris , fisika ataupun yang lainnya sehingga dengan rela mengeluarkan banyak uang untuk ikut privat ke bimbingan belajar dengan tujuan mereka bisa pandai dibandingkan dengan anak yang lainya, tapi apakah orang tua tua sama khawatirnya apabila anaknya tidak bisa ilmu agama padahal itu hal yang sangat penting untuk keselamatan di dunia maupun di akherat kelak.
5.      Dan jangan sampai termasuk dalam golongan orang yang “Fatahlik”


0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kyai Menjawab

logo-kyaijawab
logo-kyaijawab